Brat On The Beat, Strange Beat

            Tidak menulis dalam waktu yang cukup lama, bukannya tidak ada momentum musikal menarik namun apalah daya diri ini tak bergairah untuk menulis. Tidak salah lagi hanya karena media posting cerita lainnya yang lebih instan, tapi ya tetap saja tak ada yang lebih memuaskan dibanding menuliskannya dalam bentuk artikel tulisan.

            Momen terakhir yang menarik adalah ketika situasi amburadul ditemani oleh beberapa soundtrack tematik yang sengaja ditempatkan dalam playlist ponsel untuk menjadi pemanis hari-hari yang tak tentu arahnya. Dimulai dari lagu-lagu yang sangat permen karet, lagu marah-marah ala band pop patah hati Inggris sampai rekaman yang bikin emosian apalagi yang mendengarnya. Sebut saja Beatles, Jesus, Iggy, Fastball, Drums, Smiths, XX dan VU. Rekaman-rekaman tersebut bagaikan lagu wajib yang disimak. Dari beberapa nama tersebut membuktikan bahwa orang eropa nampaknya memang piawai dalam menceritakan kisah cinta mereka dalam sebuah aransemen enak didengar dan dijadikan sebagai manual book untuk melanjutkan hidup. Setelah fase tersebut, hal yang tepat adalah kembali dalam atmosfir benua Amerika atau Asia yang senantiasa menghimbau pendengarnya untuk tetap hidup dan kalo Suzi Quatro bilang “you keep a knockin’, but you can’t come in”. Semacam tetap dalam ekspresi menyeringai dan mengacungkan jari tengah kepada semua orang. Tapi tetap saja, Ramones punya versi Substitute-nya The Who, “well I am a substitute for another guy, I look pretty tall but my heels are high”. Dududu… pendahulu gue juga punya pengalaman sama nampaknya. Ya, mungkin sudut pandang berbeda mungkin, tapi samakan sajalah.

            Begitulah realitas, namun seseorang pernah mengatakan bahwa realitas adalah fiksi yang sebenarnya, karena realitas ga akan ada endingnya. Buktinya, takdir yang mengizinkan gue  dateng ke event yang emang memorable, meskipun itu band gue ga ngerti-ngerti amat. Love Garage 2014, kenapa memorable? Hujan.

 

Image             Keseruan tersendiri karena penonton (cewe-cewe) yang datang dengan setelan dan persiapan agar nampak cantik agar menawan semua penonton pria lainnya luntur dan lepek begitu saja karena hujan. Sayang sekali. Semua penonton menikmati pertunjukan dengan ponco transparan bagaikan dan melompat-lompat mengikuti ketukan lagu. Komplotan yang berasal dari kampung halaman tuan Bonaparte ini tampil lebih awal dari rencana penyelenggara karena penonton yang sudah tidak sabar menyaksikan kawanan Thomas Mars dan lainnya. Itulah buktinya gue ga terlalu ngerti Phoenix, taunya cuma Thomas Mars dan awalnya suka Phoenix adalah dari game Pro Evolution Soccer. Dan setelah itu memang menggandrungi album terakhir mereka Bankrupt! Yang memang apik produksinya. Terbukti, apa yang disimak dalam rekaman audio mereka, bisa dibilang serupa dengan apa yang didapatkan dalam pertunjukan langsung mereka, kualitas sama dan dengan energi yang besar ditambah lagi dengan cuaca hujan yang membuat Love Garage pada malam itu menjadi semakin seru dan memuaskan. Meskipun setelah itu gue harus berjibaku dengan banjir di Sarinah.

Image
Gambar dari Ismaya Live

            Liburan, saatnya pulang ke West Coast. Iya, Sumatera Barat. Pulang kali ini harus merelakan untuk melewatkan Thursday Noise Vol. 3. Tapi tenang, Vol. 4 menanti. Selama ini, gue terlalu fokus ngulik musik rock klasik populer atau beberapa yang tidak populer. The Kingsmen adalah salah satu yang sedang sering diputar. Tapi apalah artinya hidup jika selamanya menjadi batu? Sehingga secara tiba-tiba kakek memberikan beberapa rekaman dan nama musisi pop klasik yang ia sukai. Dalam situasi yang pas pula untuk melihat sudut pandang pendahulu yang lebih pendahulu lagi dalam melihat problematika kehidupan. Beberapa nama seperti Andy Williams, Perry Como, Connie Francis, Henry Dean Martin, Frank Sinatra, Johnny Mathis dan nama-nama lainnya. Bersegeralah untuk mengulik nama-nama tersebut. Dan tidak salah lagi, pemandangan seolah menjadi hitam putih dan dengan intonasi tenang namun mengintimidasi. Semakin lama semakin disimak, lirik yang ditulis oleh penyanyi-penyanyi tersebut memang terasa berasal dari pengalaman melankolis yang seakan relevan dengan pengalaman semua pendengarnya. Dari jaman dulu sampai saat sekarang. Simpelnya, lagu Andy Williams yang merupakan salah satu lagu yang dikenal, juga menjadi soundtrack film Love Story, Where Do I Begin “With her first hello, she gave new meaning to this empty world of mine. There’d never be another love, another time”. Sangat-sangat tragis, namun memang sudah terbukti dari jaman ke jaman. Kakek-kakek kita mungkin pada jamannya patah hati ataupun berdansa dengan lagu-lagu semacam ini dengan gaya 60an. 

Image

Sangat beruntung nampaknya pada zaman mereka mendapatkan suguhan yang berkelas ketika dibandingkan dengan apa yang didapatkan sekarang adalah menyaksikan wanita berambut pirang yang meratap diatas bola alat berat penggusuran. Betapa beruntungnya di jaman mereka bisa berpenampilan klimis tanpa harus memusingkan merek pomade mana yang harus dibeli karena dipakai oleh bintang rock, kapten keseblasan atau bintang film holywood.

            Sangat menyenangkan ketika selera musik terus diperkaya oleh orang sekitar, karena terdapat cerita tersendiri dari apa yang didengarkan. Dan menjadi soundtrack dalam setiap momentum kehidupan individu tersebut. Dan akan kembali diceritakan, dari waktu ke waktu.

            Demikian pengalaman spiritual gue sejauh ini, salah dan jagal gua mohon maaf. Ya jagal! Assalamualaikum. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s